Prinsip dan Etika Konservasi

Pekerjaan konservasi dapat dilakukan apabila para tenaga teknis konservasinya dapat mengenal bahan pembentuknya dan jenis kerusakan yang dihadapi. Ini mengingat, hampir semua bahan organis sangat peka terhadap kondisi lingkungan, seperti kelembaban, suhu udara, radiasi cahaya dan polusi udara. Disamping interaksi bahan-bahan pembentuknya (faktor internal), benda tersebut juga dapat mengalami kerusakan karena bahan atau cara penanganan konservasi yang tidak tepat.

Konservasi koleksi menurut American Association of Museums (AAM 1984:11) dirujuk kedalam 4 tingkatan. Pertama, adalah perlakuan secara menyeluruh untuk memelihara koleksi dari kemungkinan suatu kondisi yang tidak berubah; misalnya dengan kontrol lingkungan dan penyimpanan benda yang memadai, didalam fasilitas penyimpanan atau displai. Kedua adalah pengawetan benda, yang memiliki sasaran primer suatu pengawetan dan penghambatan suatu proses kerusakan pada benda. Ketiga adalah konservasi restorasi secara aktual, perlakuan yang diambil untuk mengembalikan artifak rusak atau ‘deteriorated artifact’ mendekati bentuk, desain, warna dan fungsi aslinya. Tetapi proses ini mungkin merubah tampilan luar benda. Keempat adalah riset ilmiah secara mendalam dan pengamatan benda secara teknis.

Kesimpulan dari keempat tingkatan konservasi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tingkat I dan II merentangkan pendanaan yang luar biasa besar tetapi menghasilkan jumlah koleksi terbanyak. Tenaga teknis konservasi yang terlatih dibawah supervisi konservator biasanya mampu melaksanakan tugas ini, dan
  2. Tingkat III dan IV biasanya diperuntukkan pada pekerjaan-pekerjaan yang cukup penting, yang mana memerlukan cukup biaya dan waktu; serta memerlukan keahlian konservator yang terlatih secara profesional.

Lodewijks and Leene (1972: 138) menyimpulkan bahwa metode konservasi dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni:

  1. Metode restorasi yang secara prinsip diarahkan pada pengembalian kekondisi aslinya, dan
  2. Metode konservasi yang dimaksudkan untuk melestarikan the status quo (keadaan tetap pada suatu saat tertentu).

Dengan pengertian diatas, jika ada sebuah benda yang berbahan dasar rapuh yang menampilkan beragam hiasan, maka bahan dasar itu dapat diganti dengan bahan baru yang identik dengan aslinya. Pekerjaan itu dapat dikategorikan sebagai metoda konservasi, karena bahan dasar yang digantikan hanya berfungsi sebagai pembawa (carrier). Langkah tersebut tidak dilakukan jika bahan dasar yang masih kuat atau dipertimbangkan sebagai memiliki nilai sejarah seni (historical art).

Pilihan antara restorasi dan konservasi terletak pada faktor rasional, sebagian lagi dari faktor irasional seperti estetika dan pertimbangan lain. Ketika sebuah benda mewakili suatu fungsi, seperti sering ada pada suatu keadaan, seperti misalnya lukisan yang menghiasi dinding-dinding suatu ruangan di istana, balai-balai kota, dan tempat-tempat tinggal sepertinya lebih cocok untuk diarahkan pada metode restorasi. Pada benda-benda koleksi museum yang pada umumnya tidak memiliki representasi fungsi, metode konservasi sebaiknya diputuskan dengan hati-hati.

Pada umumnya, konservasi dimulai dengan pembersihan, sebab kotoran dipertimbangkan sebagai bahan yang berbahaya. Tetapi, kadang-kadang permintaan konservasi bisa menjadi konflik dengan persyaratan-persyaratan spesimen tertentu. Misalnya, noda darah dipertimbangkan sebagai materi yang berbahaya, karena darah mengandung unsur besi yang berfungsi sebagai katalis proses kerusakan secara kimiawi. Tetapi noda darah yang terdapat pada pakaian seorang tokoh yang terbunuh misalnya, yang memiliki bukti sejarah, tentunya tidak dapat dihilangkan.   Selanjutnya ….

Memahami lukisan baik secara fisik (lihat gambar animasi disamping) atau substansial (“subject matters“, seniman, dll.) menjadi suatu syarat bagi seorang konservator ataupun kurator lukisan. Melalui pengamatan yang cermat (didukung dengan peralatan dan keahlian dibidang ilmu bahan), pencarian “identitas” dan “penyebab kerusakan” dari suatu karya lukisan mungkin dilakukan.  Selanjutnya ….

 

Alamat: Taman Alamanda Blok BB2 No. 55-59, Bekasi 17510
Mobile|Line|WA: 0812 8360 495  and   0818 2412 72
Email: primastoria@outlook.com

About primastoria

Pemegang Unesco Fellowship Award dari tahun 1989 sampai 1992 ini mendapatkan pendidikan sains konservasi di Tokyo National Research Institute for Cultural Properties (TNRICP), Jepang dari 1989-1990; pernah mengikuti kursus “spotting” di International Fabricare Institute (IFI) di Maryland - Amerika Serikat; serta mengikuti berbagai kursus analisis konservasi di Museum Conservation Institute (MCI) of the Smithsonian Institution di Washington D.C., Amerika Serikat (1991-1992). Selama periode magang di Smithsonian Institution, Subagiyo telah mengadakan kunjungan observasi di laboratorium-laboratorium museum dan lembaga penelitian di kota New York, Harrisburg, dan Washington D.C. Ia pernah ambil bagian dalam pengamatan kerusakan pakaian astronout di National Air and Space Museum (NASA) di Washington D.C. dan demo pencelupan warna di Carnegie Mellon College, Maryland. Pada akhir tahun 2013, Subagiyo melakukan kunjungan observasi di Museum Nasional Tokyo dan Museum Joshibi University of Art and Design, Kanagawa - Jepang. Puji Yosep Subagiyo lahir di Purworejo, Jawa Tengah. Ia adalah seorang konservator bersertifikasi internasional, dan sejak 1986 telah bekerja di Museum Nasional, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Subagiyo yang telah memiliki pendidikan lebih dari 8.000 jam dan 20 tahun berpengalaman di bidang konservasi, banyak melakukan penelitian aneka bahan - teknik pembuatan tekstil tradisional dan lukisan, penulisan, rancang-bangun database konservasi dan kurasi, mengikuti dan pembicara pada berbagai seminar internasional. Di Studio Primastoria, ia juga melayani jasa konsultasi dan konservasi tekstil, lukisan, logam, dan aneka benda etnografi.
This entry was posted in 06. Tekstil, Konservasi, Paintings. Bookmark the permalink.

Comments are closed.