Paintings Desk

A. Pengertian dan Jenis Lukisan

Sesuai dengan status sosial pemiliknya, lukisan dipajang sebagai dokumen visual, benda seni, bahkan mungkin sebagai investasi. Kita dapat memberikan nilai yang berbeda bagi sebuah karya lukis. Tetapi faktor pelukis lebih banyak dipakai sebagai tolok ukurnya, dari pada tema, bahkan atau teknik pelukisannya. Perbedaan cara pandang ini pulalah yang mempengaruhi perawatannya. Disamping kerusakan, perubahan tampilan pada lukisan juga terjadi karena transformasi bahan yang merupakan hasil dari suatu proses adaptasi seniman terhadap lingkungan, dan pengaruh hubungan antar manusia atau bangsa.

Lukisan sebagai suatu karya seni-rupa dalam bentuk dua dimensi memiliki unsur-unsur garis, bidang dan warna. Lukisan ini terbentuk dari beberapa bahan, seperti: kanvas (sebagai media pelukisan atau disebut sebagai ‘substrat’) dan cat (campuran antara pigmen dan binder atau zat-perekat), Menurut jenis substrat, macam medium (binder atau pelarut) yang digunakan untuk pigmen serta teknik penerapan zat-warna (pigmen atau bahan-celup), lukisan dapat dikelompokkan menjadi:

  1. Lukisan Cat-minyak (Oil Painting) adalah lukisan yang catnya bermedium minyak, bersubstrat kain kanvas, dan dilakukan dengan teknik kwas, palet dsb.
  2. Lukisan Cat-air (Water-color Painting) adalah lukisan yang catnya bermedium air, pada substrat kertas, dan dilakukan dengan teknik kwas dll. Pada bagian warna lukisan – yang termasuk kelompok “aquarel” – ini bersifat tembus pandang/ sinar.
  3. Lukisan Akrilik (Acrylic Painting) adalah lukisan yang catnya bermedium resin sintetis (pigmen yang terdispersi pada emulsi akrilik), pada substrat umumnya kanvas, dan dilakukan dengan teknik kwas, palet dsb.
  4. Lukisan Guase (Gouache Painting) adalah lukisan yang catnya bermedium air, pada substrat kertas dengan teknik bebas; bisa dengan teknik tuang, kwas, tiup, dll. Bagian warna pada lukisan ini tidak tembus pandang (opaque).
  5. Lukisan Tempera (Tempera Painting) adalah lukisan yang catnya bermedium bebas (bisa minyak, air, kuning telur, dsb.), bersupport panel atau kayu, yang berbahan penyerap atau ‘gesso’, dan bersubstrat kertas atau kain-kanvas dan dilakukan dengan teknik biasa atau kwas.
  6. Lukisan Pastel (Pastel Painting) adalah lukisan yang catnya bermedium menyatu dengan pigmen, pada substrat kertas, dan dilakukan dengan teknik langsung tekan. Lukisan dengan menggunakan pensil, crayon, dsb. termasuk dalam kategori lukisan ini.
  7. Lukisan Dinding (Mural atau Fresco Painting) adalah lukisan yang zat pewarnanya bermedium plester/ bebas, pada substrat dinding berplester dengan teknik bebas. Berdasarkan atas teknik yang digunakan tipe lukisan ini dibedakan menjadi dua yaitu lukisan fresco dan tempera. Lukisan fresco adalah lukisan dinding yang dilakukan pada saat plester masih basah, sedangkan lukisan tempera dilakukan pada saat plester sudah kering.
  8. Lukisan Jagrag (Panel atau Easel Painting) adalah lukisan yang catnya bermedium bebas, pada substrat kayu dengan teknik bebas (tetapi biasanya dengan kwas).
  9. Lukisan Kaca (Glass Painting) adalah lukisan yang catnya bermedium bebas (ancur, gum arab, dsb.), pada substrat kaca dengan teknik bebas (biasanya dengan kwas).
  10. Lukisan Enkaustik (Encaustic Painting) adalah lukisan yang catnya bermedium lilin panas, pada substrat bebas dan dilakukan dengan teknik tuang-panas. Ingat, lukisan enkaustik ini berbeda dengan lukisan batik.
  11. Lukisan Batik (Batik Painting) adalah lukisan yang zat pewarnanya dicelupkan pada substrat kain, dan proses pencelupan pewarna dilakukan setelah sebagian dari permukaan substrat ditutup lilin (sebagai perintang warna) untuk membentuk subyek pelukisannya.
  12. Lukisan Teknologis (Technological Painting) adalah lukisan yang catnya bermedium bebas, pada substrat bebas dan dilakukan dengan teknik elektronis (komputer).
  13. Kolase (Collage) adalah suatu bentuk karya seni (lukisan) yang menerapkan bahan- bahan berwarna yang sangat beragam secara fisik, bersubstrat umumnya kain (kanvas) dan berteknik tempel. Pada kolase, bahan yang ditempelkan sangat bervariasi, seperti: kepingan kain, kertas, kayu, kaca, kawat, pasir, dll.
  14. Litografi adalah lukisan yang catnya bermedium menyatu dengan pigmen seperti pastel dan bersubstrat kertas. Tipe lukisan ini menggunakan teknik sablon atau cap dengan blok batu gamping atau sejenisnya.
  15. Graffito adalah lukisan yang zat-pewarnanya sudah menyatu dengan substrat dan dilakukan pada dinding dengan teknik gores. Graffito atau grafiti adalah menggores dinding yang sudah dicat terlebih dahulu, tetapi sebelum mengering disapu lagi sebanyak dua kali dengan lime-wash (oksida kalsium).
  16. Frottage adalah lukisan yang zat-pewarnanya bermedium menyatu, bersubstrat bebas, dan dilakukan dnegan teknik gosok. Frottage adalah teknik membuat gambar dari tekstur (kekasaran suatu permukaan) tertentu seperti batu, kain, dsb. Setelah kertasnya ditempatkan diatas tekstur benda tersebut, maka kertasnya digosok dengan potlot atau crayon. Contoh dari proses ini misalnya pemindahan gambar pada permukaan uang logam.
  17. Grattage adalah tipe lukisan yang zat-pewarnanya sudah menyatu dengan substrat, bersubstrat kertas dan dilakukan dengan teknik gores. Grattage adalah teknik menggores cat yang masih basah dengan beberapa alat seperti sisir, garpu, pena, silet, pecahan kaca, jarum, dsb. Teknik ini memanfaatkan sifat plastis cat yang masih basah tapi sudah disapukan diatas support atau kanvas.
  18. Decalcomania adalah tipe lukisan yang zat-pewarnanya sudah menyatu dengan substrat, bersubstrat kertas atau bebas dan dilakukan dengan teknik tekan atau tempel. Teknik penekanan cat yang masih basah diantara dua permukaan kanvas atau kertas. Selembar kertas ditaburi cat terlebih dahulu, kemudian lembar kertas kedua ditempelkan dan ditekan.
 

B. Aliran Senirupa, Tokoh dan Karyanya.

Ada 20 Aliran Seni Rupa, yang mana aliran-aliran seni rupa ini memiliki ciri tersendiri, baik dari segi penggambaran maupun teknik yang digunakan dalam menghasilkan karya. Semua itu tidak lepas dari keotentikan yang sudah menjadi ciri khas sang seniman. Sehingga baik karya maupun senimannya mempunyai pengaruh besar terhadap dunia seni rupa.

Sebagian besar dari nama seniman di bawah ini pastinya sudah banyak dikenal. Mungkin juga lukisannya sudah banyak kita lihat di berbagai even kesenian yang pernah kita kunjungi. Mereka yang mempopulerkan berbagai macam aliran seni rupa berdasarkan idealismenya dalam melukis. Siapa sajakah mereka, dan seperti apa macam aliran seni rupa yang mereka usung? Berikut adalah macam aliran seni rupa yang terkenal dan menjadi acuan sampai sekarang.

01. Naturalisme

Naturalisme merupakan aliran seni rupa yang melukiskan benda sama persis dengan aslinya. Sehingga ciri dari aliran naturalisme yang paling mencolok adalah:

a. Proporsi, persektif, warna dan keseimbangannya sama persis dengan objek aslinya.

b. Kebanyakan dari aliran naturalisme mengambil objek lanskap/ pemandangan alam.

c. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran naturalisme adalah Wakidi, Basuki Abdullah, Gambir Anom dan Abdullah Surio Subroto.

d. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran naturalisme adalah William Bliss Baker, Theodore Rousseu, Frans Hall dan William Hogart.

02. Realisme

Realisme merupakan aliran seni rupa yang melukiskan suasana dari sebuah objek secara nyata, tidak berfokus pada objeknya. Sehingga ciri dari aliran realisme paling mencolok adalah:

a. Penggambaran detail objek sangat diperhatikan, khususnya untuk menciptakan kesan dan susana dari sebuah objek.

b. Kebanyakan dari aliran realisme mengambil objek berupa manusia maupun hewan dengan ekspresi yang terlihat hidup.

c. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran realisme adalah Basuki Abdullah dan Tarmizi.

d. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran realisme adalah Fransisco de Goya, Charles Prancois, Honore Daumier dan Gustove Corbert.

03. Romantisme

Romantisme merupakan aliran seni rupa irasional, fantastis dan absurd dengan latar kisah romantisme dan dramatisme. Sehingga ciri dari aliran romantisme yang paling mencolok adalah:

a. Lebih memainkan warna cerah dan mencolok pada objek dan benda di sekitar objek.

b. Kebanyakan dari aliran romantisme mengambil objek manusia, khususnya pria dan wanita dalam situasi yang romantis, baik secara detail maupun secara umum.

c. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran romantisme adalah Raden Saleh.

d. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran romantisme adalah Ferdinand Victor Eugène Delacroix, Victor Marie Hugo, Theoborre dan Gerriwult.

04. Ekpresionisme

Ekspresionisme merupakan aliran seni rupa yang menekankan pada ungkapan batin sang seniman yang dipadukan dengan imajinasi-nya. Sehingga ciri dari aliran ekspresionisme yang paling mencolok adalah:

a. Lebih menekankan pada ekspresi kesedihan, ketakutan, kekerasan, kemiskinan dan ekspresi manusia.

b. Jadi aliran ekspresionisme mengambil objek wajah manusia dan ekspresi yang ditunjukkannya.

c. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran ekspresionisme adalah Popo Iskandar, Srihadi Soedarsono dan Affandi.

d. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran ekspresionisme adalah Paul Gaugiuin, Vincent Van Gogh, Ernest Ludwig, Emile Nolde, Karl Schmidt, JJ. Kandinsky dan Paul Klee.

05. Impresionisme

Impresionisme merupakan aliran seni rupa yang menggambarkan objek secara sekilas pandang atau selintas saja. Sehingga ciri dari aliran impresionisme yang paling mencolok adalah:

a. Menggambarkan objek tanpa memperhatikan detail yang khusus dan cenderung blur atau kabur.

b. Sebagian besar aliran impresionisme mengambil objek manusia dan beberapa ada juga yang hewan.

c. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran impresionisme adalah Kusnadi, Solichin, Zaini dan Affandi.

d. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran impresionisme adalah Vincent Van Gogh, Claude Monet, Casmile Pissaro, Aguste Renoir, Sisley, Edward Degas dan Mary Cassat.

06. Kubisme

Kubisme merupakan aliran seni rupa yang menggambarkan objek menjadi bentuk bidang geometri untuk mendapatkan nilai seni yang indah. Ciri dari aliran kubisme yang paling mencolok adalah:

a. Dalam penggambarannya, objek dirubah ke dalam kombinasi bidang-bidang seperti segitiga, persegi, lingkarang dan lain sebagainya.

b. Objek yang digambar biasanya berupa hewan dan manusia, dengan latar alam atau bangunan.

c. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran kubisme adalah Fajar Sidik dan Srihadi Sudarsono.

d. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran kubisme adalah Pablo Ruiz Picasso, Salvador Felip Jacint Dalí Domènech, Gezanne, Metzinger, Albert Glazes, Braque, Fernand Leger, Francis Picabia, Robert Delaunay dan Juan Gris.

07. Fauvisme

Fauvisme merupakan aliran seni rupa yang menekankan pada corak warna yang bebas, liar dan imajinatif. Ciri dari aliran fauvisme yang paling mencolok adalah:

a. Wujud dari objek yang digambar tidak terlalu penting, warna imajinatif dan liarnya yang sangat ditonjolkan.

b. Ada beberapa pelukis yang khusus melukis fauvisme dalam bentuk lanskap dan ada juga yang tidak terikat pada tipe objek tertentu.

c. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran kubisme belum diketahui, kemungkinan belum ada yang fokus pada aliran (yang ke-anak muda-an) ini.

d. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran fauvisme adalah Andre Dirrain, Henry Matisse, Rauol Dufi, Maurice de Vlamink Paul Cezanne, Gustave Moreau, Paul Gauguin, dan Kess Van Dongen.

08. Dadaisme

Dadaisme merupakan aliran seni rupa yang menekankan seni rupa yang anti-seni dan anti-perasan. Ciri dari aliran dadaisme yang paling mencolok adalah:

a. Gambar suatu objek berbau kekerasan, kasar dan bersifat kritikan, sindiran atau plesetan.

b. Objek yang dijadikan bahan lukisan tanpa batasan dan beragam, baik benda, manusia, hewan maupun tumbuhan.

c. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran dadaisme adalah Hendra Gunawan.

d. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran dadaisme adalah Max Ernst, Juan Gross, Guillaume Apollinaire, Marcel Duchamp, Hans Arp, dan Picabia.

09. Futurisme

Futurisme merupakan aliran seni rupa yang menekankan pada keindahan gerak, visual, garis dan warna sebagai seni rupa anti-kubisme yang statis. Ciri dari aliran futurisme yang paling mencolok adalah:

a. Gambar suatu objek dilukis dalam bentuk/ model sedang bergerak, sehingga memiliki gerak bayang disekitarnya.

b. Objek yang dijadikan bahan lukisan biasanya makhluk hidup, misalkan kucing yang berkaki lebih dari 4 karena digambarkan sedang bergerak dalam model bayangan.

c. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran futurisme belum diketahui, kemungkinan tipe aliran seni ini belum begitu populer di Indonesia.

d. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran futurisme adalah Umberto, Boccioni, Carlo Cara, Severini, Gioccomo Ballad dan Ruigi Russalo.

10. Surealisme

Surealisme merupakan aliran seni rupa yang menonjolkan bentuk objek yang sering dianggap objek mimpi/ imajinasi alam bawah sadar. Ciri dari aliran surealisme yang paling mencolok adalah:

a. Objek merupakan penggabungan dua objek nyata yang berbeda wujud dan terkesan aneh.

b. Objek yang digabung dalam lukisan bisa makhluk hidup dan benda mati, bebas asalkan bisa menjadi unik.

c. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran surealisme adalah Abdul Rahman dan Gusti Putu Saderi.

d. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran surealisme adalah Salvador Dali dan Andre Masson.

11. Kontemporer / Posmo / Post Modern

Kontemporer merupakan aliran seni rupa yang tidak terikat oleh pakem dan berkembang sesuai zaman. Ciri dari aliran kontemporer yang paling mencolok adalah:

a. Penggambaran sebuah objek berupa refleksi situasi juga waktu yang tematik.

b. Objek yang dilukiskan adalah objek yang dinamis, bebas, ekspresif dan mencolok.

c. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran kontemporer adalah Sprinka, Jim Supankat, Nyoman Nuarta, dan Angelina P.

d. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran kontemporer adalah Frank Auerbach, Ida Applebroog dan Richard Artschwager.

12. Konstruktivisme

Konstruktivisme merupakan aliran seni rupa yang menekankan pada penggambaran sisi seni sebuah bangunan. Ciri dari aliran konstruktivisme yang paling mencolok adalah:

a. Objek utama yang dilukis adalah bangunan dan latar yang berada di sekitar bangunan dari satu sudut lukis.

b. Objek bisa berupa banguan kuno, klasik, modern atau bangunan apa pun.

c. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran konstruktivisme adalah Sprinka, Jim Supankat, Nyoman Nuarta, dan Angelina P.

d. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran konstruktivisme adalah Laszlo Moholynagy, Victor Pasmore, Liubov Popova, Oskar Schlemmer, dan Naum Gabo.

13. Pop Art / Populer Art

Pop Art merupakan aliran seni rupa yang melawan kebosanan dan kejenuhan terhadap seni rupa tanpa objek (sasaran). Ciri dari aliran pop art yang paling mencolok adalah:

a. Karya seni rupa pop art sebagian besar berupa seni rupa karikatur yang memuat sindiran, kritik atau humor.

b. Objek biasanya berupa manusia yang digambarkan dalam perspektif/ cara pandang lain.

c. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran konstruktivisme adalah Ris Purnomo, Nyoman Nuarta.

d. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran pop art adalah George Segal, Tom Wasselman, Claes Oldenburg, Yoseph Benys, dan Cristo.

14. Abstraksionisme

Abstraksionisme merupakan aliran seni rupa yang menghindari peniruan objek secara mentah, memberikan sensasi keberadaan objek dan menggantikan unsur bentuk dan porsinya. Ciri dari aliran abstraksionisme yang paling mencolok adalah:

a. Abstraksionisme menggunakan dua aliran: abstraksionisme geometri dan abstraksionisme nonfiguratif.

b. Abstraksionisme geometri berbentuk objek abstrak geometris murni, sedangkan abstraksionisme nonfiguratif berbentuk garis/ goresan dan warna.

c. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran abstraksionisme adalah Zaini dan Fajar Sidik.

d. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran abstraksionisme adalah Alexander Rodchenko, El Lissitzky, Wassily Kadinsky dan Naum Goba.

15. Neo-Klasik

Neo-Klasik merupakan aliran seni rupa yang bersifat rasional, objektif dan klasik. Ciri dari aliran neo-klasik yang paling mencolok adalah:

a. Objek yang dilukis dalam wujud hiperbolis, seimbang, menggunakan batasan-batasan warna yang bersih dan statis.
b. Objek yang dilukis berlatar akademis dan istana-sentris.
c. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran neo-klasik belum diketahui, sepertinya tidak begitu ada yang meminati atau fokus pada aliran ini.
d. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran neo-klasik: Jean August Dominique Ingres.

16. Pointilisme

Pointilisme merupakan aliran seni rupa yang menggambarkan sebuah objek menggunakan titik-titik. Ciri dari aliran pointilisme yang paling men-colok adalah: Objek yang dilukis akan terlihat jelas dari kejauhan, dan agak baur jika dinikmati dari dekat; Titik yang digunakan terdiri dari berbagai macam variasi, baik besar-kecil, tebal-tipis, maupun berwarna-hitam putih. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran pointilisme adalah Rijaman, Keo Budi Harijanto. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran pointilisme adalah Seurat’s La Parade dan Vincent van Gogh.

17. Primitif

Primitif merupakan aliran seni rupa yang menggambarkan sebuah objek berdasar-kan gaya penggambaran primitif di dinding goa-goa. Ciri dari aliran primitif yang paling mencolok adalah: Objek yang dilukis berupa tumbuhan, hewan dan manusia dalam bentuk garis sederhana; Detail objek tidak ditonjolkan, hanya pada penggambaran minimalis berupa garis dan aksen sederhana. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran primitif adalah S. Sudjojono. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran primitif adalah Ricardo Ponce.

18. Optik

Optik merupakan aliran seni rupa yang menggambarkan sebuah objek manipu-lasi visual yang dapat menipu mata. Ciri dari aliran optik yang paling mencolok adalah: Objek yang dilukis hanya berupa bidang, garis, atau objek yang berwarna hitam putih; Gambar berupa bentuk sederhana dan tidak memiliki detail yang rumit. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran optik adalah Agus Djaja. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran optik adalah Bridget Louise Riley dan Walter Gropius.

19. Pittura Metafisica

Pittura metafisica merupakan aliran seni rupa yang menggambarkan sebuah objek dengan sentuhan metafisika. Aliran ini merupakan penentang aliran kubisme dan futuristik. Ciri dari aliran pittura metafisica yang paling mencolok adalah: Objek yang dilukis biasanya berbentuk boneka yang erat dengan hal yang bersifat metafisika; Objek biasanya berupa manusia yang sedang melakukan aktivitas dengan benda dan latar di belakangnya. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran pittura metafisica sepertinya tidak ada. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran pittura metafisica adalah Giorgio de Chirico dan Carlo Carra.

20. Gotik

Gotik merupakan aliran seni rupa yang menggambarkan sebuah objek dengan garis tebal dan bentuk ramping serta menegaskan sesuatu berdasarkan warna. Ciri dari aliran gotik yang paling mencolok adalah: Objek yang dilukis biasanya adalah tokoh suci, kesatria, raja dan ratu; Gaya lukisan seperti ini banyak terdapat di kerajaan-kerajaan, rumah ibadah dan juga kastil atau bangunan klasik. Tokoh Indonesia yang mempopulerkan aliran gotik sepertinya juga tidak ada. Tokoh luar negeri yang mempopulerkan aliran gotik adalah Albert Durer, Jan Van Eyck, Mathias Grunnewald dan Pieter Droughel.

C. Riwayat Seniman

Affandi lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada tahun 1907. Tanggal dan bulan kelahirannya tidak diketahui secara pasti. Ayahnya yang bernama R. Koesoema adalah seorang mantri ukur pada pabrik gula di Ciledug. Affandi menempuh pendidikan terakhir AMS-B di Jakarta. Pada umur 26 tahun, tepatnya pada tahun 1933, Affandi menikah dengan Maryati, gadis kelahiran Bogor. Affandi dan Maryati dikaruniai seorang putri yang nantinya akan mewarisi bakat ayahnya sebagai pelukis, yaitu Kartika.

Sebelum mulai melukis, Affandi pernah menjadi guru dan pernah juga bekerja sebagai tukang sobek karcis dan pembuat gambar reklame bioskop di salah satu gedung bioskop di Bandung. Pekerjaan ini tidak lama digeluti karena Affandi lebih tertarik pada bidang seni lukis. Sekitar tahun 30-an, Affandi bergabung dalam kelompok Lima Bandung, yaitu kelompok lima pelukis Bandung. Mereka itu adalah Hendra Gunawan, Barli, Sudarso, dan Wahdi; serta Affandi yang dipercaya menjabat sebagai pimpinan kelompok. Kelompok ini memiliki andil yang cukup besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Kelompok ini berbeda dengan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) pada tahun 1938, melainkan sebuah kelompok belajar bersama dan kerjasama saling membantu sesama pelukis.

Pada tahun 1943, Affandi mengadakan pameran tunggal pertamanya di Gedung Poetera Djakarta yang saat itu sedang berlangsung pendudukan tentara Jepang di Indonesia. Empat Serangkai — yang terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansyur — memimpin Seksi Kebudayaan Poetera (Poesat Tenaga Rakyat) untuk ikut ambil bagian. Dalam Seksi Kebudayaan Poetera ini Affandi bertindak sebagai tenaga pelaksana dan S. Soedjojono sebagai penanggung jawab, yang langsung mengadakan hubungan dengan Bung Karno.

Sebelum dan setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 yang dikumandangkan Bung Karno dan Bung Hatta, Affandi aktif membuat poster-poster perjuangan untuk membangkitkan semangat perjuangan rakyat Indonesia terhadap kaum kolonialisme Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Kegiatan ini dilakukan bersama-sama dengan pelukis dan seniman lain yang tergabung dalam Seksi Kebudayaan Poetera, antara lain: S. Soedjojono, Dullah, Trubus, dan Chairil Anwar. Selanjutnya, Affandi memutuskan untuk pindah ke Yogyakarta dan mendirikan perkumpulan “Seniman Masyarakat” 1945. Perkumpulan ini akhirnya menjadi “Seniman Indonesia Muda” setelah S. Soedjojono juga pindah ke Yogyakarta. Pada tahun 1947, Affandi mendirikan “Pelukis Rakyat” bersama Hendra Gunawan dan Kusnadi, untuk memberikan kesempatan belajar kepada angkatan muda yang haus mendapatkan pendidikan dan praktek seni lukis. Lalu pada tahun 1948, Affandi pindah kembali ke Jakarta dan turut mendirikan perkumpulan “Gabungan Pelukis Indonesia”.

Tidak lama setelah itu, yaitu pada tahun 1949, Affandi mendapat Grant dari pemerintah India dan tinggal selama 2 tahun di India. Di sana, Affandi melakukan aktivitas melukisnya dan juga mengadakan pameran di kota-kota besar hingga tahun 1951 di India. Selanjutnya, Affandi mengadakan pameran keliling di negara-negara Eropa, diantaranya London, Amsterdam, Brussel, Paris dan Roma. Affandi juga ditunjuk oleh pemerintah Indonesia untuk mewakili Indonesia dalam pameran Internasional (Biennale Exhibition) tiga kali berturut-turut, yaitu di Brasil (1952), di Venice (Italia – 1954), dan di Sao Paulo (1956). Di Venice, Italia, Affandi berhasil memenangkan hadiah.

Lukisan Affandi yang menampilkan sosok pengemis ini merupakan manifestasi pencapaian gaya pribadinya yang kuat. Lewat ekpresionisme, ia luluh dengan objek-objeknya bersama dengan empati yang tumbuh lewat proses pengamatan dan pendalaman. Setelah empati itu menjadi energi yang masak, maka terjadilah proses penuangan dalam lukisan seperti luapan gunung menuntaskan gejolak lavanya. Dalam setiap ekspresi, selain garis-garis lukisanya memunculkan energi yang meluap juga merekam penghayatan keharuan dunia bathinnya. Dalam lukisan ini terlihat sesosok tubuh renta pengemis yang duduk menunggu pemberian santunan dari orang yang lewat. Penggambaran tubuh renta lewat sulur-sulur garis yang mengalir, menekankan ekspresi penderitaan pengemis itu. Warna coklat hitam yang membangun sosok tubuh, serta aksentuasi warna-warna kuning kehijauan sebagai latar belakang, semakin mempertajam suasana muram yang terbangun dalam ekspresi keseluruhan.

Namun dibalik kemuraman itu, vitalitas hidup yang kuat tetap dapat dibaca lewat goresan-goresan yang menggambarkan gerak sebagian figur lain. Dalam konfigurasi objek-objek ini, komposisi yang dinamis. Dinamika itu juga diperkaya dengan goresan spontan dan efek-efek tekstural yang kasar dari plototan tube cat yang menghasilkan kekuatan ekspresi.

Pilihan sosok pengemis sebagai objek-objek dalam lukisan tidak lepas dari empatinya pada kehidupan masyarakat bawah. Affandi adalah penghayat yang mudah terharu, sekaligus petualang hidup yang penuh vitalitas. Objek-objek rongsok dan jelata selalu menggugah empatinya. Oleh karenanya, ia sering disebut sebagai seorang humanis dalam karya seninya. Dalam berbagai pernyataan dan lukisannya, ia sering menggungkapkan bahwa matahari, tangan dan kaki merupakan simbol kehidupannya. Matahari merupakan manifestasi dari semangat hidup. Tangan menunjukkan sikap yang keras dalam berkarya dan merealisir segala idenya. Kaki merupakan ungkapan simbolik dari motivasi untuk terus melangkah maju dalam menjalani kehidupan. Simbol-simbol itu memang merupakan kristalisasi pengalaman dan sikap hidup Affandi, maupun proses perjalanan keseniannya yang keras dan panjang. Lewat sosok pengemis dalam lukisan ini, kristalisasi pengalaman hidup yang keras dan empati terhadap penderitaan itu dapat terbaca.

Catatan: Tulisan kompilasi ini diambil dari berbagai sumber.

Alamat: Taman Alamanda Blok BB2 No. 55-59, Bekasi 17510
Phone | Line | WA: 08128360495 and 0818241272
Email: primastoria@outlook.com