Masih ada sebagian dari masyarakat kita yang menggunakan buah lerak untuk mencuci kain batik, setelah itu dijemur di keteduhan (tidak langsung kena sinar matahari), supaya warnanya tidak pudar. Untuk perawatan rutin, mereka juga kadangkala meng-angin-angin-kan kain supaya tidak lembab dan tidak berjamur, serta penggunaan akar wangi untuk mengusir serangga. Tradisi lain yang tidak kalah menarik adalah penggunaan jeruk nipis untuk mencuci benda-benda pusaka terbuat dari logam, dan membersihkan lukisan kotor (debu) dengan roti tawar.
Tradisi atau kebiasaan yang masih berlangsung seperti diatas dapat disebut sebagai tindakan konservasi, karena konservasi bisa diartikan sebagai usaha untuk mengatasi (kuratif), memperbaiki (restoratif) dan mencegah kerusakan sesuatu agar tetap lestari (preventif). Sedangkan orang yang melaksanakan pekerjaan konservasi ini dulu disebut sebagai juru rawat atau juru pelihara, yang saat ini biasa disebut sebagai konservator di museum. Namun demikian pekerjaan konservasi (baik secara tradisional atau bukan) dikatakan efektif dan dapat dipertanggung-jawabkan harus memenuhi persyaratan.[1,2,3,4,5]
Di sini kami hadir dan telah mengadakan pelatihan, dengan harapan untuk menghasilkan tenaga terampil yang memenuhi persyaratan dan berkualifikasi profesi konservator. Kami juga telah membuat 2 bahan panduan, yaitu Petunjuk Singkat (untuk praktik) dan Bahan Matrikulasi Dasar (untuk meningkatkan pemahaman dalam melaksanakan praktik konservasi). Garis besar isi dari: (A). Petunjuk Singkat Konservasi Lukisan adalah: (A.1). pemasangan alat sensor suhu dan kelembaban, berikut kalibrasi alat, unduh dan interpretasi data. (A.2). persiapan lembar kondisi, penggunaan sinar ultra- violet dan foto mikroskopis dengan kamera. (A.3). bongkar-pasang lukisan, spanram dan pigura. (A.4). pembersihan ringan dan kimiawi. (A.5). konsolidasi, meliputi: penguatan pinggiran kanvas (relining), sambung kanvas sobek atau berlubang, serta penguatan cat rapuh atau terkelupas. (A.6). priming (dempul), tusir warna dan varnis. (A.7). Kontrol biotis dan lingkungan.
Adapun (B). Bahan Matrikulasi Dasar berisi tentang: (B.1). tinjauan karya, jenis lukisan, bahan dan teknik pembuatan; (B.2). konstruksi lukisan dan dokumentasi kondisi; (B.3). konstruksi dan pengamatan stratigrafis cat (interpretasi data XRF); (B.4). pelukis dan periodisasinya, periodisasi karya – riwayat singkat, ciri khusus cat (tekstur – impasto – tactile) dan kanvas (notasi tenun – benang); (B.5). pelaporan data kondisi keterawatan lukisan dan evaluasi data klimatologi. [Instruktur menyampaikan materi dalam 2 bahan panduan tersebut secara interaktif untuk menakar sekaligus membekali peserta ke sesi pelatihan praktik].
Setelah melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan pra-konservasi dan konservasi seperti diatas, Tim Primastoria mengarahkan peserta untuk membuat laporan akhir [1,2,3,4] sebagai syarat dan bentuk tanggung-jawab dalam pelaksanaan pekerjaan. Sekilas Konservasi Lukisan.

